Senin, 07 Juni 2010

MODEL BELAJAR PROBLEM BASED LEARNING (PBL)


MODEL BELAJAR
PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

A. Pengertian Problem Based Learning (PBL)
PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Suradijono, 2004). Menurut Boud dan Felleti (1991, dalam Saptono, 2003) menyatakan bahwa “Problem Based Learning is a way of constructing and teaching course using problem as a stimulus and focus on student activity”.
PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL.
Di dalam melaksanakan proses pembelajaran PBL ini, Bridges (1992) dan Charlin (1998) telah menggariskan beberapa ciri-ciri utama yang perlu ada di dalamnya seperti berikut:
1. Pembelajaran berpusat atau bermula dengan masalah.
2. Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi oleh mahasiswa dalam kerja profesional mereka di masa depan.
3. Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa semasa proses pembelajaran disusun berdasarkan masalah.
4. Para mahasiswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.
5. Mahasiswa akan bersifat aktif dengan pemrosesan maklumat.
6. Pengetahuan sedia ada akan diaktifkan serta menyokong pembangunan pengetahuan yang baru.
7. Pengetahuan akan diperoleh dalam konteks yang bermakna.
8. Mahasiswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.
9. Kebanyakan pembelajaran berlaku dalam kumpulan kecil dibanding menerusi kaidah perkuliahan.

B. Kurikulum PBL
Pada saat ini beberapa program studi di beberapa perguruan tinggi menerapkan kurikulum (PBL), berbeda dengan kurikulum yang dikenal selama ini yang disebut dengan kurikulum konvensional. Kurikulum PBL bersifat sentral atau tidak lagi bersifat departemental. Perbedaan pokok antara keduanya terletak pada aspek integrasi disiplin ilmu, struktur unit ranah, dan ciri-ciri tiap disiplin ilmu (Supeno Djanali, 2005).
Terdapat dua jenis kurikulum PBL, yaitu hybrid PBL (hPBL) dan PBL curriculum (PBLc). Hybrid PBL bersifat sederhana, tidak serumit PBLc. Kurikulum PBL mengubah dan menstransformasikan seluruh kurikulum konvensional menjadi sistem blok melalui pemetaan kurikulum dan tujuan belajar yang terintegrasi. Pada hPBL, hanya sebagian dari kurikulum konvensional yang diubah dan ditransformasikan ke sistem blok. Dalam pelaksanaan hPBL digunakan strategi SPICES (student centered, problem-based learning, community oriented, early clinical exposure, self directed learning) dengan tetap memperhatikan adanya pengulangan materi yang bersifat spiral atau helix. Model hPBL seperti ini tidak mengganggu kurikulum konvensional yang ada (Harsono, 2005).
Setelah melalui proses ini, kurikulum yang telah tersusun perlu melalui beberapa tahap validasi sebelum dilaksanakan. Komisi yang dapat melakukan validasi antara lain Komisi Pengkajian Kurikulum yang dapat dibentuk di tingkat jurusan atau fakultas, atau sebagai salah satu komisi dalam senat fakultas.



C. Perbedaan Metode Konvensional dengan PBL
Metode konvensional berupa kuliah atau ceramah yang memusatkan perhatian mahasiswa sepenuhnya kepada dosen sehingga yang aktif di sini hanya dosen, sedangkan mahasiswa hanya tunduk mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh dosen. Partisipasi mahasiswa rendah karena mahasiswa hanya diberi kebebasan untuk bertanya mengenai materi yang telah dijelaskan oleh dosen sehingga metode konvensional masih kurang menggugah daya pemikiran mahasiswa.
Sedangkan, metode PBL adalah metode perkuliahan yang berbasis kepada partisipasi para mahasiswa. Pada jam pertama perkuliahan, metode yang diterapkan adalah diskusi. Dosen memberikan pertanyaan kepada mahasiswa yang ditunjuk secara acak. Pertanyaan yang diajukan bersifat menggali pendapat dan mengembangkan kemampuan analisis mahasiswa. Kemudian, pada satu jam terakhir, dosen memberikan rangkuman dan inti dari diskusi pada hari itu disertai dengan inti dari konteks materi dihubungkan dengan implementasi di lapangan.
Tabel 2.2. Perbedaan Metode Konvensional dengan Metode PBL
Metode Konvensional Metode PBL
Berfokus pada dosen Berfokus di mahasiswa
Dosen menerangkan dan mahasiswa mendengarkan (one way learning). Mahasiswa menjelaskan (two way learning).
Mahasiswa bertanya. Dosen bertanya.
Dosen menjelaskan seluruh materi Dosen merangkum materi berdasarkan hasil diskusi/pemikiran mahasiswa.
Key process is teaching. Key process is learning.
Dosen hanya menyiapkan materi Dosen tidak hanya menyiapkan materi, tetapi juga harus menguasai metode penyampaian materi yang efektif.
Mahasiswa membaca menjelang ujian, terutama catatan (reading habit rendah). Mahasiswa membaca sesuai silabus sebelum kuliah dimulai (reading habit tinggi).
Mahasiswa pasif (partisipatif rendah). Mahasiswa aktif (partisipatif tinggi).
Mahasiswa hanya menghafal materi) dan kemudian lupa. Mahasiswa dapat dengan mudah menangkap esensi dari perkuliahan

D. Studi Kasus dalam Metode PBL
Metode studi kasus memungkinkan mahasiswa mempraktikkan keterampilan komunikasi baik secara tertulis maupun lisan. Metode studi kasus menggunakan strategi pembelajaran kooperatif atau kolaborasi antara dosen yang berfungsi sebagai fasilitator dan mahasiswa sebagai team (kelompok) melalui diskusi dan presentasi kelompok. Latihan-latihan berpikir yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa sebagai team work dalam melakukan analisis studi kasus adalah serupa analogi dengan aktivitas ilmuwan dalam riset.
Latihan-latihan solusi masalah dalam studi kasus merupakan pelatihan dan persiapan yang baik bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja (bisnis dan industri) maupun akan meniti karier sebagai ilmuwan, karena akan memberikan kebiasaan “berpikir melalui masalah (think through the real problems)”.
Mahasiswa sering bertanya mengapa mereka perlu mempelajari suatu topik atau informasi apa yang akan diperoleh dan digunakan oleh mereka ketika mempelajari topik. Studi kasus menempatkan pembelajaran dalam konteks dunia, yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata atau setidak-tidaknya mendekati dunia nyata.
Belajar menganalisis dan menyelesaikan studi kasus merupakan penerapan “body of knowledge” yang penting dan sesungguhnya. Studi kasus mengembangkan kemampuan penggunaan atau penerapan ilmu pengetahuan secara efektif dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar